Pandemi COVID-19 membuat banyak negara menutup perbatasan mereka bagi warga negara asing, hal ini tentunya tidak hanya berdampak pada sektor pariwisata saja, namun juga sektor pendidikan. Perbatasan yang ditutup membuat banyak pelajar internasional dari seluruh dunia semakin sulit untuk memilih negara tujuan. Australia, negara yang menjadi salah satu tujuan favorit pelajar internasional dari seluruh dunia tidak terkecuali Indonesia, masih menutup perbatasan negaranya sehingga membuat para pelajar lebih memilih negara lain seperti di UK dan Kanada.

Salah satu survei yang berbasis di Stockholm menunjukkan bahwa pelajar internasional yang berasal dari India, Nepal, dan China saat ini lebih memilih universitas di Kanada dan UK karena terlalu lelah menunggu perbatasan Australia untuk dibuka. Walaupun kekhawatiran terhadap pandemi COVID-19 tetap ada, mereka masih memprioritaskan untuk bisa masuk ke negara-negara tersebut dan memulai masa studi. Meskipun banyak pelajar internasional beralih dari Australia, negara ini tetap menduduki peringkat kelima sebagai negara yang paling banyak dipilih oleh para pelajar internasional. Berikut beberapa negara yang membuka perbatasannya untuk pelajar internasional.

  • UK 

Pelajar yang ada dapat kembali dari liburan Natal secara bertahap, asalkan mereka menjalani tes dan karantina sesuai pedoman resmi. Meskipun sebagian besar institusi diharapkan memulai semester pada saat yang sama, siswa didorong untuk terus belajar online sampai kelas tatap muka dilanjutkan. Bersamaan dengan kabar baik bahwa pelajar internasional akan menerima vaksin COVID-19, namun, muncul kabar menyedihkan dari jenis baru yang lebih menular.

  • Kanada

Kanada adalah salah satu pusat pendidikan tinggi besar pertama yang membuka kembali perbatasannya pada 20 Oktober 2020 dan telah mengeluarkan izin belajar sejak saat itu. Pelajar yang tiba harus dikarantina selama 14 hari sebelum kembali ke universitas mereka dan harus memiliki rencana COVID-19 yang disetujui. Sebagai hasil dari tindakan dan dukungan yang cepat ini, pelajar internasional sekarang memiliki persepsi yang lebih baik tentang Kanada sebagai negara yang “aman dan stabil” untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

  • Prancis

Perbatasan Prancis telah dibuka untuk pelajar dan peneliti internasional sejak Juli, dan pemrosesan visa dilanjutkan pada Agustus. Para pelajar dapat belajar di Prancis tanpa batasan jika pelajar tersebut berasal dari negara di kawasan hijau, yang mencakup negara anggota Uni Eropa, Australia, Jepang, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Inggris Raya. Ada beberapa persyaratan tambahan jika Anda berasal dari negara area merah: sertifikat perjalanan internasional, pernyataan tersumpah bahwa pelajar tersebut bebas dari gejala COVID-19, dan lembar kontak yang mencantumkan alamat pelajar di Prancis.

  • Hong Kong

Pelajar internasional dipersilakan kembali untuk memasuki Hong Kong kecuali jika mereka telah berada di Inggris, Cina, atau Afrika Selatan selama lebih dari dua jam dalam 21 hari terakhir. Begitu tiba, pelajar harus melakukan karantina selama 21 hari di hotel yang ditunjuk. Pelajar bertanggung jawab untuk memesan kamar sendiri dan harus menunjukkan bukti akomodasi sebelum naik ke pesawat. Hong Kong memiliki prosedur pelacakan dan pengujian yang ketat, yang detailnya dapat dengan mudah diakses di situs web pemerintah.

  • Singapura

Siapapun yang memegang Student’s Pass boleh masuk ke Singapura, selama mereka mendapat izin dari lembaga terkait. Semua pengunjung harus menyerahkan pernyataan kesehatan di imigrasi bandara. Pelajar juga harus mengisolasi selama 14 hari di fasilitas yang ditunjuk pemerintah.

Selain yang tertera, negara-negara lainnya di Eropa seperti Finlandia, Jerman, Denmark, dan Swedia juga membuka perbatasan mereka untuk pelajar internasional.